PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI ABBASIYAH

 


Daulah Bani Abbasiyah merupakan masa kejayaan atau "Zaman Keemasan" (The Golden Age) dalam sejarah peradaban Islam. Kekhalifahan ini menggantikan Bani Umayyah setelah melakukan revolusi besar-besaran dan memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad.

Bani Abbasiyah adalah kekhalifahan Islam kedua yang berkuasa setelah masa Bani Umayyah dan merupakan salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia. Berikut adalah poin-poin utama untuk memahami siapa dan apa itu Bani Abbasiyah:

1. Asal-Usul Nama

Nama "Abbasiyah" diambil dari Al-Abbas bin Abdul Muthalib, paman dari Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini mengklaim legitimasi kekuasaan sebagai keturunan langsung dari keluarga Nabi, berbeda dengan Bani Umayyah yang dianggap tidak memiliki hubungan darah langsung dengan Nabi.

2. Masa Kekuasaan

·       Rentang Waktu: Berkuasa selama kurang lebih 5 abad, yakni dari tahun 750 M hingga 1258 M.

·       Pusat Pemerintahan: Baghdad (Irak) menjadi pusat pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan dunia pada masa itu.

Berdirinya Daulah Bani Abbasiyah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi ketidakpuasan mendalam terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Berikut adalah faktor-faktor utama yang melatarbelakangi berdirinya daulah ini:

1. Ketidak puasan Kelompok Mawali (Non-Arab)

Pada masa Bani Umayyah, terdapat diskriminasi yang tajam antara kaum Arab (terutama suku Quraisy) dan kelompok Mawali (penduduk non-Arab yang masuk Islam, seperti bangsa Persia). Kaum Mawali diperlakukan sebagai warga kelas dua; mereka tidak mendapatkan posisi penting dalam pemerintahan dan tetap diwajibkan membayar pajak (jizyah) meskipun sudah memeluk Islam. Hal ini memicu kebencian yang mendalam.

2. Kekecewaan Kelompok Pendukung Ali (Syi'ah)

Pendukung Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (Alawiyyin) merasa dikhianati oleh Bani Umayyah sejak peristiwa tahkim dan gugurnya Husain bin Ali di Karbala. Mereka terus melakukan gerakan perlawanan bawah tanah. Kelompok Abbasiyah memanfaatkan sentimen ini dengan menggalang dukungan atas nama "Keluarga Nabi" untuk meruntuhkan Bani Umayyah.

3. Krisis Kepemimpinan Bani Umayyah

Menjelang masa akhir kekuasaannya, Bani Umayyah mengalami kemunduran kualitas kepemimpinan. Banyak khalifah yang lebih sibuk dengan kehidupan mewah dan konflik internal keluarga (perebutan takhta antar anggota keluarga Umayyah sendiri), sehingga stabilitas negara menjadi goyah.

4. Strategi Gerakan Politik yang Cerdas

Keluarga Abbasiyah, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad bin Ali dan kemudian putranya Ibrahim al-Imam, menjalankan strategi politik yang sangat rapi dan rahasia:

·      Pusat Operasi: Mereka menjadikan Khurasan (Persia) sebagai basis kekuatan karena jauh dari pusat pemerintahan di Damaskus dan memiliki populasi Mawali yang sangat besar.

· Propaganda: Mereka menyebarkan ideologi "memerangi kezaliman" dan "mengembalikan kepemimpinan kepada keturunan Nabi".

·   Panglima Militer: Mereka didukung oleh sosok panglima jenius, Abu Muslim al-Khurasani, yang berhasil menyatukan kelompok-kelompok oposisi dan membangun kekuatan militer yang sangat kuat.

5. Kelemahan Ekonomi dan Sosial

Kebijakan pajak yang tidak adil dan gaya hidup mewah para penguasa Bani Umayyah menyebabkan krisis kepercayaan rakyat. Beban ekonomi yang ditanggung rakyat jelata membuat mereka siap mendukung perubahan apa pun yang menjanjikan keadilan yang lebih baik.

Kronologi Runtuhnya Umayyah dan Berdirinya Abbasiyah

1.     Pengorganisasian: Gerakan rahasia dimulai di Kufah dan Khurasan.

2.  Pemberontakan Terbuka: Abu Muslim al-Khurasani melancarkan serangan terbuka terhadap gubernur Umayyah di Khurasan pada tahun 747 M.

3.     Pertempuran Zab: Pasukan Abbasiyah mengalahkan pasukan Khalifah Marwan II dalam pertempuran terakhir di tepi sungai Zab (750 M).

4.     Proklamasi: Setelah kemenangan tersebut, Abu al-Abbas as-Saffah dibaiat sebagai khalifah pertama Bani Abbasiyah di Kufah.

Lima Periode Dinasti Bani Abbasiyah

1. Periode Pertama (750 M – 847 M)

Disebut: Periode Pengaruh Persia Pertama Pada masa ini, kekuasaan khalifah sangat kuat dan sentralistik. Ini adalah masa kejayaan ( golden age) Daulah Abbasiyah di mana ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban Islam berkembang pesat, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya, al-Ma'mun.

2. Periode Kedua (847 M – 945 M)

Disebut: Periode Pengaruh Turki Pertama Pada periode ini, pengaruh unsur Turki dalam pemerintahan dan militer mulai mendominasi. Khalifah mulai kehilangan kendali penuh atas urusan politik karena kekuasaan riil banyak dipegang oleh para komandan militer dari bangsa Turki.

3. Periode Ketiga (945 M – 1055 M)

Disebut: Masa Kekuasaan Dinasti Bani Buwaihi (Pengaruh Persia Kedua) Baghdad dikuasai oleh Dinasti Bani Buwaihi yang berasal dari Persia dan menganut paham Syiah. Meskipun jabatan khalifah tetap dipertahankan, kekuasaan politik dan pemerintahan sepenuhnya berada di bawah kendali penguasa Bani Buwaihi.

4. Periode Keempat (1055 M – 1194 M)

Disebut: Masa Kekuasaan Dinasti Bani Seljuk (Pengaruh Turki Kedua) Kekuasaan Bani Buwaihi berakhir dan digantikan oleh dominasi Dinasti Bani Seljuk (Turki). Pada masa ini, khalifah kembali mendapatkan sedikit penghormatan simbolis, namun tetap berada di bawah kendali Sultan Seljuk.

5. Periode Kelima (1194 M – 1258 M)

Disebut: Masa Kemandirian Khalifah (Baghdad) Pada periode ini, kekuasaan dinasti-dinasti besar mulai melemah. Khalifah Abbasiyah sempat berkuasa kembali secara mandiri di Baghdad dan wilayah sekitarnya tanpa pengaruh dinasti asing, namun wilayah kekuasaan mereka sudah jauh lebih sempit dibandingkan masa-masa sebelumnya. Periode ini berakhir dengan jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HISTORIOGRAFI NASIONAL INDONESIA

AHLI WARIS DALAM ISLAM

PERAN FILSAFAT DALAM MEMBENTUK POLA PIKIR MANUSIA